Renungan

Renungan ini memuat sesuatu yang dapat menggugah perasaan, memotivasi atau menginsipirasi untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Bisa berupa ceritera, kisah, puisi atau apa saja yang dapat memenuhi yang dimaksud.

Siapkanlah Tiga Jongko

 

Kalau seseorang punya 3 jongko, misalnya jongko beras, emas dan pakaian.  Ketiga jongko itu laku semuanya, tentu saja ia punya penghasilan tetap dan besar. Andai keuntungannya Rp 100.000,- per jongko, berarti ia berpenghasilan Rp 300.000,- perhari, ia akan merasa tenang untuk menutupi kebutuhan hidupnya karena ia berpenghasilan cukup. Andai hanya memiliki satu jongko saja masih lumayan karena masih punya penghasilan tetap walau kecil.

Demikian juga bekal di hari akhir nanti. Andai punya 3 jongko yaitu : 1) Jongko Shadaqatin Jariyatin (sedekah jariah), 2) Jongko ‘ilmin yuntafa’u bihi (ilmu yang bermanfaat), 3) Jongko waladin shalihin (anak shaleh yang senantiasa mendo’akan orang tuanya). Tentu saja ia memiliki bekal yang cukup untuk mendapatkan rahmat Allah dan ridha-Nya, yaitu surga tempat kenikmatan yang abadi yang tiada taranya.

Untuk itu persiapkanlah untuk memiliki jongko sedekah jariah, yaitu sedekah yang tahan lama usianya seperti halnya ‘Amru bin ‘Ash, ia sedekah jariah sewaktu ia menjadi gubernur Mesir di zaman khalifah ‘Umar bin Khaththab sampai sekarang di abad 15 hijriyyah, peninggalannya masih bermanfaat untuk pembiayaan Universitas Al Azhar.

Demikian juga imam Buhkari yang meninggal tahun 256 H telah meninggalkan karya besar di bidang keilmuan, yaitu kitab Shahih Bukhari sebanyak 4 jilid, sampai sekarang peninggalannya masih di kaji dan dipelajari oleh puluhan juta ummat islam di berbagai belahan dunia.

Andai sedekah jariyah dengan harta belum mungkin karena tidak memiliki harta yang banyak, jariyah dengan ilmu juga belum mampu, persiapkanlah putra-putri kita untuk menjadi putra putri yang shaleh dan shalehah yang senantiasa mendo’akan orang tuanya, yang dengan do’a putra yang shaleh dosa orang tuanya dibebaskan oleh Allah dan juga berhak meraih rahmat-Nya.

(Sumber : Upaya meraih husnul khatimah di usia senja oleh A. Zakaria dan Dr. H. Kunkun K. Wiramihardja)

Ibrah dari Seorang Kakek yang Menanam Kurma

 

Ada seorang kakek yang berusaha untuk menanam pohon kurma padahal ia telah berusia 80 tahunan, sedang kurma baru bisa dipetik hasilnya setelah kurang lebih 8 tahunan. Tiba-tiba ada seorang reja lewat, ia merasa heran seorang kakek yang sudah berusia tua renta baru menanam kurma, kemudian ia bertanya kepada kakek itu. “Kek ! Apakah terbayang oleh kakek bahwa  kakek akan dapat memetik kurma yang kakek tanam ?” Jawab kakek : “Wahai paduka raja, kakek pikir kurma yang kakek makan itu bukan kurma tanaman kakek, tetapi orang pendahulu kakek yang menanamnya dan kakek memakannya. Apa salahnya paduka raja, kalau kakek sekarang menanam kurma dan kakek tidak dapat memetiknya tetapi orang lain, anak atau cucu kakek dapat memetiknya ?” Raja bengong dengan jawaban kakek yang menarik sekali, katanya : “Betul kek !” apa yang kita makan sekarang itu adalah tanaman orang lain bukan tanaman kita sendiri, sementara kita belum menanam untuk dipetik nanti oleh orang lain.Kemudian raja memberikan hadiah kepada kakek uang satu dinar karena tertarik dengan jawabannya, kemudian kakek berkata :“Wahai paduka raja ! Kakek pikir orang lain menanam kurma baru setelah 8 tahun dapat memetiknya, sementara kakek hari ini menanam kurma dan hari ini juga telah dapat memetik hasilnya, yaitu satu dinar,” Raja tersenyum karena tertarik dengan jawabannya, akhirnya raja memberi lagi hadiah uang satu dinar lagi. “Kek ! ini saya beri hadiah lagi satu dinar.” Kemudian kakek menjawab lagi : “Wahai paduka raja ! Kakek pikir orang lain hanya dapat memetik kurma satu kali dalam satu tahun, yaitu hanya satu musim dalam satu tahun, sedangkan kakek hari ini saja sudah dapat dua musim, yaitu uang dua dinar.” Akhirnya raja memberinya lagi satu dinar.

Kisah diatas sungguh menarik sekali untuk dijadikan pelajaran, yaitu jangan ragu-ragu dalam menanam amal shaleh walau sudah usia tua renta, usahakan saja untuk menanam amal shaleh karena jangankan di hari akhir nanti, kadang di dunia juga sudah dapat merasakan hasilnya, berupa kepuasan, kebahagiaan, dimana hasil tanamannnya dapat dirasakan manfaatnya oleh orang  lain. (Sumber dari buku Upaya Meraih Husnul Khatimah di Usia Senja karya A. Zakaria dan Dr. H. Kunkun K. Wiramihardja)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Okt    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: